PUISI, KEKUASAAN, DAN NARSISME KOTA

MUNAJAT DI JANTUNG KERIS: PUISI, KEKUASAAN, DAN NARSISME KOTA


MUNAJAT DI JANTUNG KERIS: PUISI, KEKUASAAN, DAN NARSISME KOTA

Ada yang ganjil di Sumenep. Sesuatu yang mengendap di antara pamor keris dan geliat sastra yang seharusnya bebas. Sebuah tugu didirikan, puisi terpahat, dan kita seharusnya bangga? Atau justru harus curiga?

Puisi Munajat di Jantung Keris karya Ibnu Hajar menjadi bahan perbincangan bukan karena mutunya yang luar biasa, melainkan karena cara ia ditempatkan—di atas tugu, di bawah bayang-bayang kekuasaan, dan dalam ruang yang terlalu sempit bagi puisi untuk bernapas bebas. Apakah puisi ini benar-benar mewakili jiwa Sumenep, atau hanya sekadar ornamen yang dipasang agar tampak ada geliat sastra di kota yang semakin hari semakin kehilangan suara penyair-penyairnya?

Jujur saja, saya menyayangkan diamnya penyair-penyair Sumenep terhadap fenomena ini. Kota ini, yang katanya milik semua orang, tiba-tiba terasa seperti hanya milik segelintir orang saja. Apakah tidak ada yang merasa tersinggung ketika sastra dijadikan sekadar alat pencitraan? Apakah tidak ada yang merasa sakit hati ketika penyair-penyair yang telah lama mengabdikan diri pada kata-kata, justru tidak mendapat ruang hanya karena mereka tidak dekat dengan lingkaran kekuasaan?

Jantung peradaban sebuah kota bukan terletak pada tugu, bukan pada batu, bukan pada puisi yang terpahat di prasasti. Jantung peradaban ada di dada para pemuda yang terus berkarya dengan jujur, bukan mereka yang sibuk membangun citra, menjilati kekuasaan, dan berharap diberi remah-remah legitimasi dalam panggung sempit bernama "pengakuan."

POLA KASOKAN MAOS JUGAN

Lucu rasanya melihat geliat sastra di Sumenep semakin tidak masuk akal. Posisi kepenyairan dianggap mapan dan bermutu hanya ketika penyairnya mendapat pesangon atau puisinya terpajang di proyek-proyek pencitraan kekuasaan. Padahal, sejarah mencatat bahwa puisi yang baik tidak butuh batu untuk abadi—ia hidup dalam pikiran generasi setelahnya, dalam debat, dalam gelisah, dalam pembacaan yang terus-menerus menggali makna.

Tapi sekarang? Penyair yang benar-benar berproses, yang mengorbankan sebagian hidupnya untuk menciptakan puisi dengan identitas yang kuat, justru terpinggirkan. Sementara yang lain, yang mungkin baru saja muncul dalam radar sastra Indonesia, tiba-tiba mendapati karyanya dipahat di tugu. Sebuah ironi bagi mereka yang benar-benar memahami bahwa puisi bukan soal batu, bukan soal proyek, bukan soal pamor yang dipoles di depan publik.

Dan yang lebih aneh lagi, ada pertanyaan yang terus menggema di benak saya: apakah hanya karena nama beliau Ibnu Hajar (anak batu), maka puisinya dianggap pantas dipahat di tugu? Apakah ini simbolisme yang disengaja atau hanya kebetulan absurd yang menegaskan betapa konyolnya keadaan ini?

Sumenep, penyair-penyairnya kecolongan lagi. Jika kalian terus diam, maka puisi ini akan tetap berdiri di sana, bukan sebagai penghormatan, tetapi sebagai saksi betapa sastra telah dikerdilkan menjadi sekadar alat bagi mereka yang punya kuasa. Munajat macam apa yang kalian bisikkan dalam sunyi, hingga kalian lupa bahwa puisi tidak akan pernah bisa hidup di batu, tapi harusnya berdenyut dalam dada manusia yang masih berani melawan?


Sumenep, 2025

*Catatan Budaya Jufri Zaituna

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak